Solusi Masalah Pencernaan: Cara Menyeimbangkan Probiotik dan Mikrobiota Usus
Wawancara dengan Dr. Songju Lee, Direktur Klinik Gangnam Pureun
Banyak orang mengalami masalah pencernaan — perut kembung setelah makan, diare yang sering, perut terasa penuh dan keras, serta ketidaknyamanan usus yang muncul kembali setelah acara makan atau minum.
Gejala‑gejala ini mungkin bukan sekadar masalah pencernaan biasa, tetapi tanda bahwa keseimbangan mikrobiota usus Anda terganggu.
Artikel ini disusun berdasarkan wawancara dengan Dr. Songju Lee, Direktur Klinik Gangnam Pureun, dan mengulas secara mendalam cara‑cara praktis untuk mengatasi masalah gangguan usus.
Kesehatan usus sangat berkaitan dengan kesehatan seluruh tubuh, jadi saya sarankan Anda membaca artikel ini sampai selesai.

🌿 Apa yang Terjadi Ketika Keseimbangan Mikrobiota Usus Terganggu?
Di dalam usus kita terdapat bakteri baik (probiotik) dan bakteri jahat (patogen) yang hidup berdampingan.
Ketika keseimbangan ini terganggu, dampaknya tidak hanya pada pencernaan, tetapi juga pada kekebalan tubuh, tingkat kelelahan, dan kondisi kulit.
“Yang paling penting adalah menciptakan lingkungan tempat bakteri baik dapat tumbuh dengan optimal.”
Bakteri baik menyukai serat makanan — yaitu sayuran, buah‑buahan, dan biji‑bijian, atau yang sering disebut “makanan hijau”.
Sebaliknya, bakteri berbahaya menyukai daging dan makanan berlemak.
Karena itu, jika pola makan sehari‑hari Anda lebih banyak daging dan sangat sedikit sayuran,
Akibatnya, bakteri berbahaya akan meningkat dan kondisi lingkungan usus pun pasti memburuk.

🚨 Jika Anda mengalami gejala‑gejala ini, kemungkinan besar bakteri berbahaya sedang meningkat.
- Perut kembung dan banyak gas setelah makan
- Diare yang sering terjadi atau sembelit
- Perut terasa penuh dan pencernaan lambat
- Sering bersendawa dan ketidaknyamanan perut
Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan terjadi kekurangan bakteri baik dan peningkatan bakteri berbahaya.
Dalam kondisi seperti ini, mengonsumsi probiotik secara rutin dapat sangat membantu.

🍺 Kebiasaan terburuk yang membunuh bakteri baik: alkohol
“Alkohol adalah jalan tercepat untuk membunuh bakteri baik.”
Alkohol membunuh bakteri di usus seolah‑olah sedang mensterilkannya.
Masalahnya, bakteri jahat tumbuh kembali lebih cepat daripada bakteri baik.
✔ Pedoman konsumsi alkohol yang wajar
- 1–2 kali per bulan
- “Saat minum, jumlah totalnya harus kurang dari satu botol, apa pun jenisnya.”
Banyak orang menganggapnya sebagai ‘1 botol bir, 1 botol soju, 1 botol wiski’ secara terpisah, tetapi…
Total konsumsi harus kurang dari satu botol, apa pun jenisnya.
Sering atau banyak minum alkohol dapat memperburuk kondisi usus dengan cepat dan menyebabkan masalah pencernaan berulang.
🤢 Orang yang ususnya menjadi sangat sensitif keesokan hari setelah minum bersama
Banyak orang mengalami diare, rasa panas di perut, dan mual berulang keesokan harinya sampai sulit untuk bekerja.
Gastroenteritis dapat dijelaskan secara umum dalam dua jenis utama.
1) Gastroenteritis fungsional
- Makanan berminyak + alkohol
- Diare · sakit perut
- Gejala membaik ketika tidak makan.
2) Gastroenteritis bakteri
- Mengonsumsi makanan yang sudah basi
- Disertai demam, menggigil, dan pegal-pegal tubuh
- Diare tetap berlanjut meski tidak makan.
- Perawatan dengan antibiotik mungkin diperlukan.

💧 Dalam kasus seperti ini, terapi infus dapat membantu.
Pada gastritis atau enteritis akut, terapi infus memberikan efek cepat.
Karena efeknya muncul lebih cepat dibanding obat oral dan membantu memulihkan dehidrasi dengan lebih cepat.
Terutama pada hari setelah minum alkohol
- Mual / ingin muntah tanpa keluar isi
- Diare
- Lemas / kurang tenaga
- Gejala dehidrasi
Dalam kasus seperti ini, terapi infus dapat sangat membantu.
✔ Alasan terapi infus efektif untuk mengatasi hangover
Alasan mengapa sup kecambah (tauge) baik untuk mengatasi hangover Asam aspartat
→ Zat ini juga tersedia dalam bentuk injeksi.
Itulah sebabnya ini sangat efektif ketika hangover dan masalah pencernaan muncul bersamaan.
🧪 Saran dokter bagi mereka yang sering mengalami masalah pencernaan
- Meningkatkan asupan serat makanan sehari‑hari
- Mengonsumsi probiotik secara rutin
- Batasi minum alkohol hingga 1–2 kali per bulan, kurang dari satu botol setiap kali
- Membedakan gastroenteritis fungsional dan bakteri berdasarkan apakah gejala memburuk setelah makan
- Pertimbangkan terapi infus jika terjadi dehidrasi, diare berat, dan pegal‑pegal
Jika Anda sering mengalami masalah pencernaan atau bertanya, ‘Kenapa usus saya begitu lemah?’
Diperlukan diagnosis dan konsultasi profesional.
❓ F&A
1. Haruskah saya pergi ke rumah sakit jika masalah pencernaan terus berulang?
Jika gejala terus berulang atau mengganggu aktivitas sehari‑hari, diperlukan pemeriksaan profesional.
2. Siapa yang paling mendapat manfaat dari probiotik?
Dapat bermanfaat bagi orang yang mengalami kembung setelah makan, sering buang gas, serta diare atau sembelit berulang.
3. Apakah saya benar‑benar harus membatasi minum alkohol hanya 1–2 kali sebulan?
Untuk kesehatan usus, batas tersebut dianggap ideal, dan prinsipnya adalah kurang dari satu botol apa pun jenis minumannya.
4. Saat terkena gastroenteritis, bagaimana sebaiknya mengatur makanan?
Jika diare berhenti saat tidak makan, kemungkinan itu gastroenteritis fungsional; jika berlanjut, bisa jadi gastroenteritis bakteri.
5. Setelah minum alkohol, usus saya sangat sensitif keesokan harinya — apakah infus bisa membantu?
Pada gejala gastritis akut, enteritis, atau dehidrasi, terapi infus dapat membantu pemulihan lebih cepat.
Klinik Penyakit Dalam Gangnam Pureun https://pureunim.com
